Sentuhan Emas
SENTUHAN EMAS
Sebuah Desa
Bernama Margajaya, desa yang nyaman dan asri membuat kehidupan seorang putri
Bernama Arsyi tumbuh menjadi anak yang sholeh, yang cerdas serta mandiri. Dia
lahir dari keluarga yang tidak begitu kaya, tetapi mampu membuat dia menjadi
anak yang mempunyai impian yang besar.
Suasana
lantunan ayat-ayat al-quran serta nadzom di pesantren semakin menambah karakter
kesempurnaan Arsyi. Suasana pesantren begitu hening, damai bahkan ramai sampai
malam dengan canda tawa para santri. Subhanallah….
Masa-masa
batita Arsyi setiap hari dia di hadapkan dengan seluruh warga pesantren,
akang-akang dan teteh teteh yang mengasuhnya dibuat gemass olehnya, Arsyi
tumbuh menjadi anak yang pandai bicara, di sekolah PAUD melati sudah biasa
sebelum belajar pasti berdoa terlebih dahulu sambil bernyanyi
Ibu jari,
Jari telunjuk
Jari tengah
yang Panjang
Jari manis
pakai cin-cin
Jari
kelingkingku sayang
Satu dan dua
Tiga empat dan lima
Kubuka tangan ini
Lalu kita berdoa
Sambil
menunjukkan jari-jarinya dan didampingi oleh ibu guru.
Setelah maghrib Arsyi sudah terbiasa untuk
mengaji ummi (iqra), suatu hari ibu nya mengawali ngaji tersebut dengan
nyanyian yang sama dengan di sekolahnya, terjadilah percakapan
“Yuuk cuang
ngaos hla, sateuacan ngaos cuang ngadoa sambil nyanyi nya anu sapertos d
sakola,,,(kita ngaji yuuuk, tapi sebelum ngaji kita berdoa dulu sambil nyanyi
lagu seperti di sekolah ya)” kata ibu
“siap bu”
jawab Arsyi
“Ibu jari,
jari telunjuk, jari tengah yang Panjang, jari manis pakai cin-cin”
Tiba-tiba
nyanyian tersebut berhenti, alangkah terkejutt nya ibu dengan perkataan Arsyi
“ ibu jari
manis abdi mah teu nganggo cin-cin, berarti abdi teh kedah di cin-cin?” (ibu,
jari manis aku nggak pake cin-cin, berarti aku harus pake cin-cin?)
Ibunya
tertawa kecil mendengar pertanyaan Arsyi, sambil menjawab
“ henteu
kitu oge neng, mung ieu teh maksadna janten ciri upami jari manis teh tempat
nyimpen cincin, sanes neng kedah dicincin” (nggak gitu juga sayang, ini
maksudnya sebagai ciri bahwa jari manis itu tempat menyimpan cin-cin, bukan
berarti kamu harus pake cin-cin).
Dan memang
ibu Arsyi mendidik Arsyi sesuai realita tidak pernah bohong dengan kenyataan. Hari-hari
Arsyi dihabiskan full dengan ibu, sesekali Arsyi diasuh oleh nenek dan para
santri, tidak ada yang intens sebagai title pengasuh Arsyi.
Selain Arsyi bersekolah di PAUD dia
juga selalu menjadi asisten cilik ibunya yang mengajar di SMA kalau bahasa
sunda namah suka ngingintil ibunya mengajar di kelas. Ibunya berharap
dengan ngingintil tersebut akan tersimpan hal-hal baik dalam memory Arsyi,
karena ibu Arsyi menginginkan Arsyi menjadi anak yang tumbuh dengan kasih
sayang dan ilmu pengetahuan.
Kasih sayang ibu tak kan pernah ada
habisnya terbukti dengan Arsyi sering sakit-sakitan, ibu selalu sabar
mendampingi dan menyayanginya, dari
semenjak bayi Arsyi hampir setiap bulan mengalami sesak yang diakibatkan dari
polusi dan debu. sampai suatu hari Arsyi
masuk rumah sakit, sampai-sampai dokter mengharuskan orang tuanya untuk membeli
tabung oksigen supaya ketika sesak tidak harus langsung ke rumah sakit hanya
untuk menerima oksigen, karena memang kondisi daerah yang Arsyi dan keluarga
tempati sangat panas.
Tentu setiap orang tua pasti tak akan
tega melihat anaknya sakit apalagi sampai masuk rumah sakit, tapi apa daya
kondisi ekonomi orang tua nya saat itu tidak memungkinkan untuk membeli tabung
oksigen tersebut. Hingga akhirnya orang tua Arsyi memutuskan untuk pindah rumah
ke kampung halaman, karena memang waktu itu Arsyi dan keluarga merantau ke kota
lain.
Sampai di kampung halaman orang tua
Arsyi mengira bahwa penyakit sesak tersebut sudah hilang, ternyata dugaannya
salah, Arsyi selalu sakit-sakitan sesak disertai batuk, ayah ibu sudah lelah,
bingung entah obat apa yang harus Arsyi minum. Ketika lelah itu menghampiri ayah
ibu disanalah ada secercah harapan dan perjuangan.
Ayah dan ibu meminta pendapat kepada
nenek Arsyi apa yang harus ayah ibu lakukan untuk Arsyi, ibu berkata
“Mah abdi
bingung Arsyi teh sesak batuk bae meuni hampir unggal sasih, kunaon atuh nya obatna?” (“mah aku bingung Arsyi batuk
sesak terus hampir setiap bulan, kira-kira apa obatnya?”) kata ibu
Mamah (nenek
Arsyi) menjawab “ cuang cbian teu kenging ngaemam jagong atuh da Arsyii mah
resep pisan kana jagong”. (“kita coba Arsyi nggak boleh makan jagung karena kan
Arsyi seneng banget makan jagung”)
“oh mhun
mah” (“oh iya mah”) tempas ibu
Ayah dan ibu melakukan apa yang di
sarankan nenek Arsyi, tapi apa hasilnya? Ternyata Arsyi masih sesak dan batuk,
kemudian ada yang bilang katanya obat
batuk sesak nafas itu cukup pake daun karuk aja di tumbuk kemudian di balurkan
kalo Bahasa sunda namah ke badan Arsyi dan lakukan setiap Arsyi batuk sesak.
Setiap bulan ibu menumbuk daun karuk tersebut, dengan sabarnya
membalurkan ke tubuh Asryi walupun terkadang sambil menangis, tak tega melihat
Arsyi terbaring lemah, berharap Arsyi
segera sembuh, ibu menumbuhkan keyakinan ibu yakin sentuhan dan kasih sayang ini yang
akan menyembuhkan Arsyi.
Alhamdulillah dengan izin Allah batuk dan sesak Arsyi sembuh berkat
baluran daun karuk, walaupun tidak menyembuhkan total tetapi setidaknya tidak
setiap bulan Arsyi mengalami sakit. Ayah dan ibu Arsyi sangat senang, Arsyi
kembali ceria setiap harinya.
Semakin hari Arsyi semakin tumbuh
menjadi anak yang baik, bisa ngaji, baca buku, sholeh bahkan mandiri membantu
pekerjaan ibu di rumah, hati ayah ibu senang tidak terkira.
Sekarang Arsyi sudah besar, dia
menyadari bahwa betapa pentingnya kasih sayang seorang ibu kepadanya,
Arsyi semakin tahu dan faham menjadi seorang ibu itu tidak mudah, perjuangan
yang melelahkan tetapi membuahkan hasil yang memuaskan. Arsyi tidak tahu bagaimana
jadinya jika dulu ketika Arsyi sakit tidak ada ibu yang mengurusnya,
menyayanginya, mungkin Arsyi sekarang tidak akan bisa merasakan sentuhan
seorang ibu, sentuhann yang luar biasa, yang semua orang dambakan, ketika sentuhan itu hilang banyak orang yang mencarinya, seperti emas
walaupun hanya sebutir yang hilang tapi karena emas itu berharga tetap akan
dicari sampai ketemu.
Itulah sentuhan seorang ibu bak sentuhan emas yang selamanya didambakan
dan dicari oleh anak-anaknya. terimakasih ibu engkau telah memberi sentuhan yang luar biasa sehingga aku bisa bertahan dan sehat sampai saat ini.

Komentar
Posting Komentar