februari ceria hari ke 15 Si Pesimis Datang
Si Pesimis Datang
tidak semua orang
mendapatkan keinginan dan keteguhan dalam hatinya untuk memantapkan diri
menimba ilmu di pesantren, aku termasuk orang yang beruntung yang mana Allah
memberikan keinginan itu dalam diriku, sebuah keinginan yang menurut orang lain
mungkin hanya biasa saja, tetapi bagi diriku merupakan hal yang luar biasa,
karena untuk memantapkan hati meninggalkan kampung halaman, orangtua dan berada
di dalam aturan-aturan ketat keagamaan tidak mudahuntuk dilakukan.
Bermula dari
seorang santri yang tidak betah, sering menangis dan mengeluh ingin pulang,
bukan tidak mau tetapi ya ini aturan pesantren yang harus dilaksanakan, aku
mencoba mengikuti dan mentaati aturan tersebut “santri baru tidak boleh pulang
dalam waktu 3 bulan”.
Aku mengikuti
aturan tersebut dari mulai shalat berjamaah, kuliah subuh, ngaji kitab di
beberapa waktu tertentu dan aku bertemu dengan berbagai macam guru yang ilmu
nya luar biasa bagiku, sampai aku membeyangkan alangkah bahagianya jika bisa
mengajar di depan santri yang banyak, dan aku mempunyai ilmu luar biasa pula.
Alhamdulillah 3
bulan sudah aku lalui dengan kegiatan yang sangat padat, aku bangga bisa
melalui 3 bulan ini tanpa pulang, walaupun masih ada dalam hati rasa ketidak
betahan, tapi ya di betah-betahkeun kalau kata orang sunda mah.
Menginjak ke
bulan ke 4 aku di pesantren, suatu hari tepatnya ba’da ashar Ketika aku mengaji
aku mendengarkan kajian-kajian kitab. Guru ku berkata
“Jika kita ingin mempunyai
ilmu pengetahuan maka hidarilah perbuatan maksiat”.
Deg aku kaget
“hah, apakah iya?” tanyaku dalam hati.
Setiap hari aku
lalui Bersama teman-teman asrama, ngobrol, bertukat pengalaman, sampai
menggosip pun kami lakukan,hehe.. karena memang itulah kegiatan kami, Ketika
kami mumet dengan kegiatan yang menguras tenaga, pembelajaran yang menguras
waktu, refreshing kami ya bercanda tawa dengan teman-teman sampai tidak terasa
terselip gosipan tentang laki-laki..hehe..paling banter kita ngebaso nareng itupun
jika bekal kami masih ada.
Teringat dengan
kata-kata pak ustadz tentang orang yang akan mendapatkan ilmu itu, aku mulai
berubah Haluan, aku tahu menggosip bukanlah hal yang baik, aku berfikir,
“percuma aku mesantren, tujuan ku ingin mendapatkan ilmu pun akan sia-sia,
pulang saja? keluar dari pesantren? Huh”.
Si pesimis datang
menghampiri begitu kuat aku rasakan. Aku bingung, aku mulai berfikir
berulang-ulang tentang aku keluar dari pesantren.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk curhat kepada
pak ustadz yang memberikan petuah itu.
“kang jika kita
melaksanakan maksiat, apakah betul kita akan susah mendapatkan ilmu
pengetahuan?” tanyaku
“iya betul,
memangnya kenapa?”
Aku menghela
nafas,
“kang salahsatu
perbuatan maksiat itu menggosip, kita sering menggosip dengan teman-teman
asrama karena memang kita sering bertemu di asrama hanya dengan teman-teman,
tidak pernah sendiri, jika seperti itu ilmu tidak akan didapatkan, bagaimana
jika kita keluar dari pesantren saja, karena kan kalau di rumah kita tidak
sering bertemu dengan teman-teman?” tanyaku begitu Panjang dan runtut
“keluar dari
pesantren bukan solusi yang baik, apakah menjadi jaminana di luar sama tidak
akan menggosip? Tidak kan”, tidak menutup kemungkinan ketika di luar sana tidak
akan menggosip, bahkan justru mungkin akan semakin melakukan perbuatan
maksiat”. Begitu bijak jawabannya
“Iya sih”.
Tempasku
“Luruskan niatmu
kembali, gapai tujuanmu untuk mendapatkan ilmu di pesantren”. Lanjutnya
Aku terus menata
hati ini meluruskan niat baikku tinggal
di pesantren. Manusia itu seperti handphone setiap hari memerlukan
carger untuk memenuhi baterai HP supaya dapat digunakan. Begipun manusia
mebutuhkan bimbingan dan motivasi dari luar untuk mengembalikan semangat dalam
dirinya.
Alhmdulillah aku
betahan di pesantren bahkan mau mnginjak 6 bulan waktu itu, tibalah saatnya
imtihan pesantren. Dari hasil imtihan itu aku mendapatkan peringkat pertama,
bahkan Ketika aku pulang liburan semester banyak hal yang aku dapatkan,
mendapatkan hadiah buku karya pak kiyai karena aku menjadi santri baru teraktif
, mendapatkan piala juara 2 menyanyi al-wardah, piala juara 1 pidato dalam
rangka porak (Pekan Olahraga Kelas) dan mendapatkan nilai rapot yang
membanggakan bagiku. Alhamdulillah terlihat di wajah orang tua ku senyum yang
begitu membahagiakan, bangga.
Inilah kehidupan
yang harus manusia jalani, menjalankan
takdir terbaik dari Allah, terus memotivasi diri, menjadikan hari ini lebih
baik dari hari kemarin.

Komentar
Posting Komentar