februari ceria hari ke 27 sang kiyai berpulang

 


Sang Kiyai berpulang

bagian 1 

            Tepat di tahun 2010 seluruh warga pesantren menangis bahkan bukan hanya warga pondok tetapi sampai gubernur Jawa Barat pun menangis, kenapa? Karena kami ditinggalkan oleh ulama yang sangat kharismatis, iya yang aku sebut kiyai yang sangat lembut dalam cerita ini.

            Pada waktu itu seperti biasa setelah subuh kami melaksanakan kuliah subuh di Gedung, kami merasa aneh tidak ada satu orang pun dari para pimpinan pesantren memberikan tausiyah kepada kami, dalam hatiku bertanya-tanya, ada apakah ini? Karena memang tidak biasanya seperti ini.

            Akhirnya kami diberi ceramah keagamaan oleh salah seorang jamaah senior, perasaanku berubah menjadi cemas, sebenarnya ada apa ini?. Setelah kuliah subuh selesai para pengurus membubarkan kuliah subuh karena memang sudah waktunya untuk keluar Gedung tersebut. Ketika kami seluruh santri sedang mengantri untuk mengambil makan tiba-tiba datang sebuah berita bahwa pak kiyai sudah tiada.

Tepat pukul 06.15 pagi beliau meninggalkan kami, pada hari selasa 18 Mei 2010, innalillahi wainna ilaihi roji’un. Sang kiyai yang kami banggakan, kelembutannya nyaris tidak ada yang menandingi, ilmunya nyaris begitu sempurna, petuah-petuahnya yang akan selalu terpatri dalam diri seluruh para santri, kini tidak akan ada lagi sosok kiyai yang begitu mendamaikan semua orang yang menemuinya.

Dug sontak hati ini hancur seolah merasakan betapa pedih dan sakitnya ditinggal oleh seorang ayah yang begitu dicintai. Seluruh santri menangis atas kepergian sang kiyai yang lembut tersebut.

Pondok di landa duka yang begitu mendalam, terlihat  dengan jelas di depan semua mata yang berziarah ucapan turut berduka cita berjajar dari mulai gerbang pondok sampai menuju Gedung dan pemakaman, ada ratusan  ucapan duka cita dari mulai para alumni sampai pejabat kabupaten bahkan level Nasional.

Hal itu menunjukkan betapa diri beliau sangat mempunyai pengaruh besar bagi negara Indonesia, ada sekitar 5 bahasa yang beliau kuasai salahsatunya ialah Bahasa Jepang. Mr Atsusi Sano (seorang dubes Jepang untuk Indonesia) pada tahun tersebut di buat kagum oleh pak kiyai, beliau ngobrol santai dengan pak kiyai menggunakan Bahasa Jepang.

Jujur hati ini begitu iba, melihat ratusan ucapan duka cita yang berjejer, para pelayad berdatangan yang semakin siang semakin banyak mulai dari para alumni, pak kapolres sampai ke pejabat provinsi Gubernur jawa Barat.

Suasana pondok begitu haru seolah pondok pesantren menangis di tinggalkan oleh sang kyai yang membesarkannya. Pada saat itu pula aku berfikir betapa hebatnya pak kiyai, seorang ilmuwan yang di hormati, disegani dan dihargai oleh seluruh masyarakat. Hal ini terlihat dari para pelayad yang semakin sore semakin membludak.

Aku menghela nafas sambil merenung, “apakah aku bisa seperti pak kiyai, menyimpan banyak kebaikan untuk semua manusia di dunia?”. Pak kiyai betul-betul telah membuat sejarah yang begitu baik untuk dirinya, sehingga setelah beliau tiada pun kebaikan-kebaikan nya tetap mengalir dalam diri semua santri yang pernah bertemu dengannya.

Proses pemakaman pun dimulai sore hari, kembali aku dibuat kagum oleh prosesi pemakaman beliau, iya prosesi pemakaman yang di saksikan oleh ribuan para pelayad yang ingin menyaksikan beliau di makamkan, prosesi pemakaman kemiliteran yang membuat semakin haru dan terhormatnya beliau dalam  hati semua manusia. Para pejabat negara, para alumni, para kiyai, Bupati, Dandim, kapolres dan Gubernur jawa Barat pun iut menyaksikan prosesi pemakaman beliau, semuanya berhimpun disana, menghaturkan penghormatan terakhir kepada sang kiyai yang lembut tersebut.

“Allahu Akbar”

Suara takbir yang menggema menandakan bahwa pemakaman sudah di mulai.

Komentar

Posting Komentar