februari ceria hari ke 3 Guru yang dirindukan

 

Berawal dari do’a



            Berawal dari do’a, ya itulah yang harus di katakan oleh manusia dalam meraih sebuah keinginan untuk mencapai impiannya, impian menimba ilmu di sebuah pesantren modern yang terkenal merupakan hal yang mustahil waktu itu bagiku, tapi berbekal keyakinan dan do’a serta motivasi dari orang tua dapat mendobrak kemustahilan tersebut.

            Sebuah kampus pesantren modern di kab Ciamis menjadi sasaran didalam do’aku, berbekal dari keinginan orang tua yang ingin aku menjadi anak pesantren dan untungnya bekal tersebut satu visi dan misi dengan keinginanku, teringat petuah orang tua ku “jika impianmu itu ingin terlaksana maka berdo’alah di setiap sujud terakhirmu Ketika shalat”. Hal ini sesuai dengan hadits  yang mengatakan bahwa "Keadaan seorang hamba yang paling dekat dari Rabbnya adalah ketika dia sujud, maka perbanyaklah doa." (HR Muslim).

            Do’a menjadi kekuatanku, karena aku dilahirkan dari keluarga yang kehidupan ekonominya tidak begitu kaya, banyak petuah-petuah bijak yang ayah dan ibuku sampaikan “luruskan niatmu nak, niat untuk menuntut ilmu, lihat dan contohlah orang-orang yang berilmu tinggi, hindari membandingkan dirimu dengan orang-orang yang kaya, karena ayah menyekolahkanmu kesana bukan karena kaya tetapi karena ingin mempunyai anak yang beriilmu”. Petuah dan do’a yang begitu luar biasa, yang melekat di hati sampai saat ini.

Kembali ku renungi niatku menuntut ilmu di pesantren itu, karena jujur ada rasa takut dalam hati terbersit niat yang tidak baik yang justru akan menjerumuskanku ke dalam hal-hal yang negative. Aku terus menata hati, meluruskan niat yang baik sesuai petuah dari orang tua ku. bersambung....

Komentar

Posting Komentar