Februari ceria hari ke 8
Sesampainya di
tempat tujuan aku menginjakkan kaki ini untuk kedua kalinya dan akan terus kaki
ini melangkah di kampus ini selama nya. Rasanya seperti mimpi berada di
lapangan yang begitu besar dan banyak mobil yang berjejer yang mengantarkan
para santrinya untuk modok di pesantren tersebut.
Aku langsung
menuju secretariat untuk mengambil kunci lemari dan nomor asrama, ada seorang
teteh pengurus yang mengantarkanku ke kamar, teh Novil panggilannya, selama
perjalanan menuju asrama, dia bertanya tentang nama, darimana kemudian dia
bercerita bahwa dia berasal dari Sukabumi yang ini merupakan perjuangannya jauh
dari orang tua, dia menjadi pengurus pesantren dan tidak mendapatkan jatah
untuk pulang kampung. Hiks aku menangis dalam hati membayangkan jika aku nggak
bisa pulang ke rumah padahal perjalananku dari pondok ke rumah sangat dekat
dibanding dengan dirinya yang mebutuhkan waktu 8-10 jam perjalanan.
Setelah aku
sampai di asrama semua barang-barang ku bawa masuk ke asrama, disana sudah
banyak santri baru Bersama orang tua yang sama-sama mengantarkan barang-barang
anaknya, begitu luar biasa suasana asrama tersebut, terasa kehangatan dan
kedekatan antara anak dan orang tua, ada yang nangis Bahagia, terharu, sedih,
begitupn dengan keadaanku aku sengaja mengulur waktu orang tuaku supaya tidak
cepat pulang ke rumah.
Semakin aku
mengulur waktu semakin sedih hati ini, sampai orang tua ku sadar bahwa hanya
mereka orangtua yang ada di asramaku, tanpa fikir Panjang mereka langsung pamit
kepada pembimbing asrama menitipkanku, aku pun mengantarkan mereka sampai masuk
ke mobil
“bapak dan
mamah pulang ya” kata bapak
Aku hanya bisa
menjawab dengan diam sambil wajah merah menahan tangis, aku nggak boleh nangis
di depan orangtuaku karena ini adalah keinginanku untuk mesantren, aku harus
kuat walaupun sebenarnya hati ini sangat ingin menjerit di tinggalkan mereka.
Akhirnya mobil kolmini
itu semakin menjauh dan tak terlihat oleh mataku menandakan bahwa mereka sudah
jauh dan tepat di waktu itu pula aku akan memulai kehidupan yang baru yang
semua permasalahan akan aku hadapi sendiri tanpa orangtua ku. Aku menangis
sambil berdoa di dalam hati “ya Allah aku memulai hidup ini dengan ridho mu, restuilah aku, betah, betah,
betah”

Komentar
Posting Komentar