februari ceria hari ke 9
Malam pertama
di pesantren
Tepat jam 17.00
seluruh santri baru sudah masuk ke asrama masing2 dengan kondisi yang sama
semuanya tanpa orang tua mereka dan terdengar pengumuman "Ila jamiittullab
wattholibah 'alaikum an tajtami’u filqoo'ah adwatul ummah", semua santri baru
kebingungan mendengar pengumuman ini, apa maksudnya? Ternyata kebingungan ini
membuat kami bertanya kepada teteh pembimbing, dia menjawab "artinya kita
sebentar lagi akan berkumpul di gedung Nadwatul ummah segera siap-siap ya"
ucap teteh pembimbing
“Baik teh”
sambut kami semua.
Pada malam itu
semua santri berkumpul di Gedung pesantren yang megah, pertama kali aku
menginjakkan kaki di Gedung tersebut suasana
ramai pesantren begitu terasa, ribuan santri masuk ke dalam Gedung tersebut, banyak
canda tawa para santri karena lama tidak
bersua dengan temannya, ada juga santri yang diam di pojok Gedung sedang
menangis, mungkin dia santri baru sama sepertiku.
Di Gedung tersebut
semua santri shalat maghrib berjamaah dilanjutkan dengan sambutan-sambutan
ucapan selamat datang dari para kiyai, terdengar tepukan ciri khas pesantren
dari para santri, aku bergumam dalam hati “waaw takjub luar biasa, aku tidak
salah memilih pesantren”.
Malam itu aku
disuguhkan dengan petuah dan wejangan pak kiyai, perjuangan yang akan membuahkan
hasil di masa depan, perjuangan meninggalkan kampung halaman dan orang tua demi
mendapatkan segudang ilmu pengetahuan, doa dan restu orang tua yang akan terus
mendampingiku. Teriring do’a dalam sebuah syair pesantren
Berdatangan dari
pelosok nusantara
Berbekal niat
ikhlas di dada
Kadang tangis
di pelupuk mata
Kan teringat
kampung nan jauh disana
Ayah dan bunda
tercinta
Selalu mengirimkan
doa
Semoga putra-putrinya
menggapai cita
Meraih ilmu
Syair tersebut
bukan sembarang syair diciptakan oleh penciptanya, melainkan sebuah do’a dan wejangan
bagi para santrinya agar tetap meneguhkan iman dan ikhlas di dada dengan
berbekal niat yang kuat untuk mendapatkan imu dan cita-cita mulia. Syai’ir itu menguatkanku.

Komentar
Posting Komentar