hari ke 10 "kiyai yang lembut"
Sang kiyai yang
lembut
Seperti biasa aku dihadapkan dengan
rutinitas kesantrian dari mulai bangun
tidur sampai tidur Kembali, hati dan diri ini tertantang akan ada pelajaran apa yang hari ini aku
dapatkan.
Aku memulai rutinitas
pagiku dengan mengikuti shalat subuh di mesjjid putri dilanjutkan dengan kuliah
subuh di Gedung megah itu, terdengar suara gemuruh sandal santri keluar dari masjid
menuju Gedung tersebut, bisa kita bayangkan ketika semua santri berkumpul di Gedung
dan mereka semua bercengkrama ngobrol dengan teman-temannya bagaimana suara
yang di dengar, tentu sangat bising dan begitu bergemuruh.
Tiba-tiba
datanglah sosok kiyai naik ke fodium beliau mengucapkan
“ehm” (suara
serak seperti batuk)
Spontan Gedung tersebut
sangat hening, tidak ada satu orang santripun yang terdengar suaranya, masya
allah, aku bertanya di dalam hati
“siapakah dia?”
Ternyata beliau
Bernama KH Irfan Hielmy pengasuh pondok pesantren
Beliaulah sosok
manusia yang pandangannya penuh dengan kelembutan, kasih sayang, setiap pagi
setelah subuh selalu memberikan pencerahan bagi seluruh santrinya di kuliah
subuh tak terkecuali aku sebagai santri baru. Kekuatan ilmu yang dia miliki
membuat santri, mustami’ dan pejabat sekalipun terdiam Ketika beliau hendak naik ke Fodium. Sungguh
manusia yang mempunyai karomah yang luar biasa, ulama yang berkharismatik.
Hari demi hari
aku lalui di pesantren sambil merasakan betapa rindunya diri ini kepada orang
tua dan kampung halaman, secara aku masih menyandang status sebagai santri baru,
tetapi bukan hanya aku yang merasakan kerinduan itu ternyata semua temanku merasakan
hal yang sama, bahkan sampai ada yang menangis di kamar mandi sambil nelpon
orang tua nya sambil ngobrol
“Mah aku nggak
betah, ingin pulang aja, nyesel masuk ke sini, nggak usah mesantren ngapain
mesantren, ah nggak mau, nggak betah”.
Ya aku
bersyukur tingkat ketidak betahannya tidak seperti mereka, hanya nangis kangen dan
nggak betah, tekadku dalam hati “tidak boleh mengeluh mau pindah, baru juga beberapa
hari di pesantren udah nyerah gitu aja, lagian ini adalah keinginanku untuk
masuk pesantren, jalani dan nikmati saja”. Tekadku
Selesai kuliah
subuh aku memberanikan diri untuk menyapa dan bersalaman dengan kiyai
harismatik itu, semakin dalam ku memandang wajahnya semakin teduh dan merasakan
rasa kasih sayangnya beliau yang begitu dalam kepada para santrinya.
Ketika beliau
keluar dari Gedung diikuti oleh semua santri aku menghampiri beliau dan memberanikan
untuk memperkenalkan diri dan mengutarakan bahwa aku tidak betah, aku
menanyakan doa supaya betah di pesantren, beliau berkata
“tahu surat
alam nasyroh kan?” tanya beliau
Aku mengangguk
yakin
“bacalah surat tersebut
di setiap setelah shalat” jawabnya.
Percakapan yang
begitu singkat tetapi membuatku senang dan termotivasi, karena tidak semua
santri dapat petuah secara pribadi dari beliau, betapa bangga diri ini dapat
menyapa dan bersalaman dengannya.
Ketika ku tatap
wajahnya sambil badan merengkuh betapa teduhnya wajah beliau, dapat kurasakan
keikhlasan dalam dirinya mendidik, membimbing para santrinya menjadi santri
yang moderat, democrat dan diplomat sesuai motto pesantren tersebut. Jika aku
tidak malu akan terus ku pandang wajah teduh tersebut bukan karena rasa cinta
yang berlebihan tetapi karena kagum dan tadzim dengan imu yang beliau miliki
sehingga terpancar di wajahnya yang begitu lembut sesuai dengan nama beliau “Irfan
Hielmy”.

Komentar
Posting Komentar