7 Ramadhan - perbedaan Shiyam dan shaum

 

Perbedaan Shiyam dan shaum


         
Alhamdulillah sudah 7 hari kita melaksanakan puasa Ramadhan di tahun ini. Jika dilihat dari waktu menjalankannya tentu harus sudah banyak targetan-targetan kebaikan kita yang telah kita capai, jika mempunyai target membaca al-qur’an 1 hari 1 juz berarti hari ini harus sudah mencapai 7 juz, dan targetan-targetan yang lain sesuai kehendaknya masing-masing.

Alhamdulillah puasa 7 hari telah dilalui dengan tidak membatalkannya sebelum waktunya tiba, tetapi kita tahu tidak apa sih arti puasa sesungguhnya?

Jika dilihat dari etimologi puasa dapat diartikan menahan, sedangkan menurut terminology atau istilah puasa diartikan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa puasa di sebutkan dalam al-qur’an dengan kata shiyam dan shaum, semuanya mengandung arti menahan, tetapi dalam hal ini ada perbedaan yang sangat menonjol.

Allah memerintahkan shiyam kepada manusia sesuai dengan surat Al-baqarah ayat 183

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ -

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
            ayat diatas menunjukkan kata puasa dengan kata shiyam, kata shiyam dalam al-qur’an disebutkan sebanyak 7 kali. Maksud dari kata shiyam disini adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalakan, baik itu minum, makan, berhubungan intim dari semenjak terbit fajar sampai terbenam matahari.

 

            Adapun kata shaum dalam al-quran hanya disebutkan 1 kali yaitu QS Maryam ayat 26

فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا ۚفَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّا ۚ

“ Maka makan, minum dan bersenanghatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.”

            Jika dilihat dari ayat di atas kata shaum diartikan sebagai menahan diri dari omongan, dalam arti menahan dari berbicara. Secara otomatis kata shaun disini menganjurkan kita untuk tidak boleh berbicara sama sekali.

            Jika kita renungi kata shiyam dan shaum tadi “Allah begitu maha pengasih dan penyayang terhadap hamba-Nya, beliau tahu apa yang mampu untuk hamba-Nya kerjakan dan tidak, untung saja Allah memerintahkan kita berpuasa dengan perintah melalui surat Al-Baqarah ayat 185 yaitu dengan kata Shiyam, bayangkan jika Allah memerintahkan puasa dengan kata shaum apakah kita sanggup?

Wallahu a’lam…

 

 

Komentar