februari ceria hari ke 14
AKU, KAMU DAN
MEREKA
Lembar demi lembar ini tak hanya sebatas benda bagiku, tetapi merupakan
sebuah impian yang sedang kurangkai, sebuah impian tak hanya bisa dirasakan
tetapi bisa juga diungkapkan dengan kata-kata, seperti tahun 2012 silam aku mempunyai
sebuah impian ingin rasanya mempunyai keluarga yang harmonis, kepala keluarga
yang sangat agamis, sehingga bisa menjadikan aku dan anak-anakku lebih dekat
dengan-Nya.
Impian itu sering aku ungkapkan dalam doa di setiap shalatku, memohon
kepadanya “Ya Allah berikanlah aku jodoh yang baik menurut-Mu, takdir yang
terindah di hadapan-Mu, berilah aku lelaki yang pintar, kaya harta, kaya ilmu
serta kaya hati, yang menerimaku dan
keluargaku, sayang kepada keluarga dan mampu membuatku dan anak-anakku lebih
dekat dengan-Mu”. Mungkin menurut Sebagian orang doaku terlalu mahal, terlalu
mewah, tetapi aku mempunyai sebuah keyakinan bahwa berawal dari do’a lah sebuah
impian akan terwujud.
Di tahun 2012 pula aku dipertemukan dengan sosok pria yang aku tahu dia
seorang laki-laki yang luar biasa yang menjabat sebagai sekretaris salah satu
organisasi kemahasiswaan waktu itu, kita di pertemukan melalui jalan
kepengurusan pesantren Darussalam yang terkenal dengan nama kampus biru, kita
sama-sama dilantik menjadi mudabbir 2012 yang jabatannya sama yaitu Rois
(pemimpin), dia rois putra dan aku roisah putri.
Di tahun itu Ketika kita dipertemukan tak terbersit sama sekali untuk
PDKT, saling ta’arufan dan yang lainnya, yang ada dalam fikiranku waktu itu
bagaimana menjalankan kepengurusan dengan baik, yang memang usiaku masih belia
untuk menjadi seorang pemimpin waktu itu, tetapi semangat dan ajakan bahkan
motivasi dari guru terus membuatku terpacu meyakinkan bahwa usia 20 tahun tidak
menjadi penghalang untuk menjadi pemimpin yang harus berakhir dengan husnul
khatimah. Scenario Allah memang indah, dari sinilah kisah Cinta kita dimulai.
Di tahun 2014 tepatnya hari sabtu 13 September 2014 menjadi sejarah
kehidupan yang semua orang dambakan, dia ucapkan ijab qabul dihadapan ayahku
dan seluruh yang hadir disaksikan di hadapan Allah dan malaikat, di iringi
dengan persembahan yang luarbiasa, surat luqman menjadi pilihannya untuk
mempersunting ku selamanya, tertulis di Lauhul Mahfud takdir cinta kita berdua,
betapa bahagianya aku saat itu.
Waktu terus berjalan tidak ada yang tahu rintangan apa yang akan
dihadapi dalam sebuah rumah tangga, aku harus melanjutkan study S2 ku dalam
keadaan aku hamil, karena memang 1 hari setelah menikah suamiku memotivasi ku
untuk daftar study S2, padahal waktu itu pun dia sedang menyelesaikan study S2
nya. Alhamdulilah aku bersyukur mempunyai seorang suami yang selalu memotivasiku
untuk terus belajar dan berkembang dengan ilmu pengetahuan.
Di tahun 2015 tepatnya bulan juni 2015 anak ku lahir yang kami beri nama
“Aqila Shafa Al-Fariha”, sebuah nama yang kami buat dengan harapan anak itu
cerdas dan pembawa kebahagiaan. Takdir tidak ada yang tahu ternyata tahun
berikutnya Allah karuniakan lagi kepada kami anak laki-laki yang kami beri nama
“Arsyil Rahman Al-Ghazali”.
Tahun demi tahun aku lalui dengan mengurus 2 anak batita secara
bersamaan yang mana aku pun harus tetap mengajar di sekolah. Setiap hari aku
mengajar dikelas dengan didampingi oleh 2 asisten kecilku, serasa berat bahkan
tersiksa rasanya Ketika harus mengajar pelajaran kepada anak-anak sambil
mengasuh 2 anak batita, terkadang di tengah-tengah mengajar 2 anakku berkata
“bu pengen BAB” dengan logat sunda anak kecil. Byarrr Buyar sudah konsentrasi
mengajarku. Belum lagi Ketika mereka sakit, pasti selalu berbarengan seperti
anak kembar, ingin rasanya aku menjerit “Ya tuhan seperti inikah takdir yang
harus aku jalani? Kalau boleh memilih aku lebih baik menyerah tuhan “ .
Rutinitas dan Keluhanku aku curhatkan kepada suamiku, lagi-lagi aku
bersyukur mempunyai suami seperti dia , dia berkata “ini perjuangan kita
mendidik anak-anak kita bu, dari perjuangan ini akan ada hal yang manis di luar
sana bahkan ini investasi kita di akhirat, ibu harus Tangguh, harus sabar
karena bisa saja mereka yang akan mengajak kita ke syurga”, tak tahan air mata
ini mengalir terharu mendengar petuah-petuahnya.
Menjadi seorang istri sekaligus ibu yang luar biasa bagi anak-anakku
merupakan perjuangan yang tidak akan pernah usai, banyak orang-orang kampung yang
nyinyir “seorang perempuan tak perlu sekolah tingg-tinggi” katanya, tapi bagiku seorang perempuan harus terus
belajar dan haus akan ilmu, seorang perempaun akan menjadi seorang ibu yang
tugasnya sangatlah mulia yakni al-ummu madrasatul ula. Aku adalah
seorang ibu yang harus mempunyai Pendidikan yang tinggi, aku harus mempunyai
ilmu pengetahuan yang luas, karena Pendidikan pertama anak-anakku ada pada
diriku, aku yang akan mendidik anak-anakku menjadi generasi yang hebat, yang
Tangguh, yang berguna bagi bangsa ini.
Begitupun dengan suamiku perjalanan 45 menit dari rumah menuju tempat
kerja bukanlah rutinitas yang menyenangkan bahkan mungkin ada kalanya
membosankan.
Suatu hari dia pernah akan menyerah untuk meninggalkan tempat kerjanya
dengan alasan jarak yang terlalu jauh, kondisi tubuh yang semakin
sakit-sakitan, apalagi pekerjaannya menuntut waktu dari pagi sampai sore bahkan
malam hari, tetapi entah apa yang sedang Allah rencanakan untuk kami
kedepannya, suamiku ternyata masih tetap bertahan dengan pekerjaannya, dengan
keyakinan “ya ini sebuah perjuangan untuk keluarga, Allah tidak akan
menyengsarakan orang ketika sedang mencari nafkah untuk keluarga, dijalani,
dinikmati dan disyukuri saja” katanya. Hmhmmh aku hanya bisa menghela nafas
mendoakan yang terbaik untuknya.
Aku hanya bisa pasrah waktu itu, aku serahkan semuanya kepada-Mu Ya
Allah, aku yakin engkau akan memberikan kemudahan setelah kesulitan itu
menerjang, seperti janji Allah di dalam surat al-ingsyiroh dan aku harapkan
kemudahan-kemudahan itu setiap hari.
Seorang istri hanya berkewajiban untuk menjalankan perintah suami, ya
itulah yang aku lakukan, Ketika suamiku mengeluh kemudian aku mengutarakan
pendapat, “berhenti saja, cari tempat
yang lebih dekat”, tetapi pendapat tersebut tidak sefaham dengan suamiku, aku
hanya bisa diam, karena aku faham tugas dia menjadi seorang suami dan ayah
tidak begitu mudah, pasti dia memikirkan plan A plan B untuk kami sebagai istri
dan anak-anaknya.
Aku percaya kamu adalah pemimpin bagi kami, suami yang baik, ayah yang
luar biasa, uswatun hasanah bagi kami.
Suamiku
Aku hanyalah seorang perempuan yang derajat, watak dan tabi’atnya sama dengan perempuan-perempuan lain, entah
apa yang membuatmu yakin untuk hidup
bersamaku, apapun keyakinan itu, aku sangat bersyukur memilikimu, terimakasih
atas semua pengorbanan yang telah engkau berikan untukku, teruslah bimbing aku
untuk selalu beribadah, mendapat derajat yang baik sehingga aku mendapatkan
title sebagai istri shalihah di matamu.
Suamiku
Ku mohon jangan pernah lelah dengan celotehanku, dengan tangisanku,
dengan kemarahanku, karena inilah aku perempuan yang telah kau pilih untuk
hidup bersamamu.
Suamiku
Kita
harus sama-sama berjuang terus untuk mendidik anak-anak kita menjadi generasi
yang Tangguh, yang unggul, memiliki kepribadian yang baik, mendidik mereka
menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah, kita sama-sama mengharapkan
merekalah yang akan menuntun kita menuju syurga nya Allah swt.
Komentar
Posting Komentar